Psikologi Perkembangan

By: Yohana Bertha Damarwulan Siregar, S.Psi, M.Psi, Psikolog

Anak usia dini pasti lebih senang dengan hal- hal yang bisa membuat anak senang seperti bermain, belajar karena dengan inilah anak- anak lebih senang apalgi mereka tidak perlu memikirkan banyak hal layaknya orang dewasa. Namun, anda harus tetap memperhatikan perkembangan anak anda. Perkembangan dan pertumbuhan anak merupakan hal penting dalam menunjang fisik dan mental anak. Perkembangan anak berhubungan dengan keadaan dan kondisi dalam keluarga yang harmonis atau keluarga yang kurang harmonis. Oleh karea itu, Psikologi Perkembangan harus lebih di perhatikan untuk perkembangan dan pertumbuhan secara meunyeluruh apalagi jika anak tersebut masih dalam usia dini yang masih harus di perhatikan oleh orang tua dan keluarga.

Anak memiliki masa atau perode keemasan pada usia 0- 8 tahun, laju keemasan ini anak akan mengalami tingkat perkembangan yang drastic mulai dari cara berfikir, emosi, motorik, fisik dan secara social. Peran orang tua disini, sangat berpengaruh pada Psikologi perkembangan. untuk itu, berikut ini hal yang harus di perhatikan bagi orang tua.

Perkembangan kognitif

  • Tahap sensorimotor, ini merupakan masa awal anak dengan memproduksi berbagai kejadian, mulai menggunakan peralatan untuk tujuannya dan melakukan berbagai eksperimen untuk menemukan hal baru. tahap ini saat anak usia 0- 2 tahun
  • Tahap pra- operasional, tahap ini anak akan menerima rangsangann yang terbatas dengan kemampuan bahasa, masih belum mampu untuk berfikir abstrak. Tahap ini saat anak usia 2- 7 tahun.
  • Tahap konkret operasional, tahap ini anak sudah bisa berfikir secara rasional seperti melipat, menyusun, melakukanpemisahan, penambahan dan membagi. Tahap ini saat usia 7- 11 tahun.
  • Tahap formal operasional, tahap ini anak mulai beranjak dewasa dengan berfikir hipotetik, sudah menampung dan berfikir abstrak seperti matematika, agama dan fisika.

Perkembangan bahasa

  • Periode prelingual, usia 0- 1 tahun dengan cirri mengoceh dengan orang tua atau menanggapi respon berbeda. Misalnya ketika bayi bertemu dengan orang di kenalnya maka ia akan tersenyum dan mengis kepada orang tidak di kenal atau takutinya.
  • Periode lingual, usia 1,2- 5 tahun. Tahap ini dengan membuat kalimat satu atau dua kata.
  • Periode diferensiasi, usia 2,5- 5 tahun yang telah memiliki kemampuan dewasa sesuai dengan tata bahasa yang baik dan benar.

Penerapan Social Story untuk menurunkan perilaku tantrum pada anak Autism Spectrum Disorder (ASD). By: Yohana Bertha Damarwulan Siregar, S.Psi, M.Psi, Psikolog

Menurut Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (2013) muncul istilah baru untuk autis yaitu autism spectrum disorder (ASD). Criteria diagnostic gangguan spectrum autism (ASD berdasarkan DSM V adalah:

  1. Defisiensi persisten dalam ranah komunikasi sosial dan interaksi sosil dalam banyak konteks, seperti yang dituturkan berikut ini, baik dewasa ini maupun berdasarkan sejarah (contoh dibawah ini bersifat ilustrasi, tidak mendalam):
  2. Defisiensi dalam timbal balik sosial & emosional, berkisar, misalnya dari pendekatan sosial tidak lazim dan gagalnya percakapan normal, berkurangnya perhatian, emosi atau kepura-puraan hingga gagal dalam memulai interaksi sosial.
  3. Defisiensi dalam perilaku komunikasi verbal dan non verbal, kurangnya kontak mata, bahasa tubuh dan kurangnya pemahaman serta gestur tubuh.
  4. Defisiensi dalam mengembangkan, memelihara dan memahami suatu hubungan, berkisar, misalnya dari kesulitan mengatur tindakan untuk menyesuaikan keadaan sosial, menuju kesulitan untuk sharing imaginative play; hingga hilangnya minat pada teman sebaya.
  5. Terbatas, pola berulang pada perilaku, perhatian atau aktivitas sebagaimana yang dituturkan oleh setidaknya dua hal berikut ini, saat ini atau berdasarkan sejarah (contoh bersifat ilustratif, tidak mendalam):
  6. Stereotip atau gerakan motorik berulang, penggunaan benda-benda, atau tutur kata (misalnya, stereotype motorik sederhana, membariskan mainan atau melemparkan benda-benda, echolalia, dan kata-kata yang bersifat idiosinkratik (idioxyncratic).
  7. Bersikeras terhadap kesamaan, kebiasaan mutlak yang melekat, perialku berualng-ulang atau perilaku nonverbal dan verbal (misalnya, tekanan hebat terhadap perubahan-perubahan kecil, kesulitan terhadap transisi, pola pemikiran yang kaku, greeting ritual, kebutuhan untuk mengambil rute atau makanan yang sama setiap hari).
  8. Keterbatasan tinggi, minat yang tidak wajar pada intensitas dan fokusnya (misalnya ketertarikan kuat pada atau kegemaran terhadap objek yang tidak biasa, berlihan terhadap minat yang terbatas atau preserfatif).
  9. Hyper/Hyporeactivity untuk input sensorik atau minat yang tidak biasa pada aspek sensorik dari lingkungan (misalnya, ketidakpedulian terhadap rasa sakit/temperature, respon negative terhadap suara atau tekstur, berlebihan dalam membaui/menyentuh. suatu objek, terpesona secara visual oleh adanya cahaya atau gerakan).

Harus terdapat gejala dalam masa perkembangan awal (namun mungkin tidak sepenuhnya terwujud hingga tuntutan social melebihi kapasitas yang terbatas, atau bisa jadi tertutupi dengan strategi yang telah dipelajari dikemudian hari).gejala menyebabkan gangguan klinis yang signifikan pada bidang social, pekerjaan atau wilayah penting dari fungsi saat ini.gangguan semacam ini tidak dijelaskan secara lebih baik oleh kecacatan intelektual (Gangguan perkembvangan intelektual) atau keterlambatan perkembangan global. Kecacatan intelektual dan gangguan spectrum autism sering terjadi disaat yang sama, untuk membuat diagnose komorbiditas gangguan spectrum autism dan kecacatan intelektual, komunikasi social harus dibawah yang diharapkan untuk level perkembangan umum.

Intervensi social story telah digunakan secara efektif untuk mengajarkan keterampilan sosial kepada anak-anak dengan ASD (Schneider & Goldstein, 2010). Ada beberapa alasan mengapa menggunakan social story itu efektif. (a) social story bersifat visual, (b) cerita yang sama dapat digunakan berulang kali dengan siswa, (c) social story menggunakan biaya dan waktu yang efektif, (d) cerita dibuat untuk menarik perhatian yang diperlukan dari siswa, (e) cerita berfokus pada pemikiran dan tindakan orang lain, (f) cerita mudah ditulis dan diterapkan, dan (g) cerita dianggap sebagai intervensi yang efektif dan dapat diterima oleh guru dan keluarga. Sementara Crozier dan Tincani (2005) melaporkan bahwa penggunaan social story dengan isyarat verbal lebih efektif dalam mengurangi perilaku yang tidak pantas daripada cerita sosial saja, Reynhout dan Carter (2007) menyatakan bahwa baik isyarat visual maupun isyarat verbal dengan social story efektif dalam mengurangi perilaku tidak pantas. Menurut Gul dan Vuran, 2010, anak dengan ASD mempunyai permasalahan dalam mengingat informasi dari social story setelah 6 minggu. Gray and Garand (1993) memperkenalkan metode social story dalam bidang pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus.Social story, dengan gaya belajar secara visual, digunakan untuk mengajar anak-anak dengan gangguan autis mengenai keterampilan sosial yang menggunakan cerita yang mirip dengan situasi yang sebenarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *